SEJARAH LENGKAP HKBP
Huria Kristen Batak Protestan - Jejak Iman Sepanjang Masa
Awal Mula Misi (1824 - 1860)
Upaya penginjilan di Tanah Batak sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum Nommensen. Pada tahun 1824, dua utusan dari Inggris, Burton dan Ward, menginjakkan kaki di Silindung namun belum membuahkan hasil besar. Kemudian pada tahun 1834, dua missionaris dari Amerika (ABCFM), Munson dan Lyman, mencoba masuk namun mereka gugur sebagai martir di Lobu Pining. Benih iman ini tidak mati, melainkan menjadi dasar bagi misi selanjutnya yang dilakukan oleh lembaga misi Jerman, Rheinische Missionsgesellschaft (RMG).
Era Dr. Ingwer Ludwig Nommensen
7 Oktober 1861 ditetapkan sebagai hari lahir HKBP, tepat saat dilakukan rapat pertama para missionaris di Sipirok. Namun, sosok yang paling berpengaruh adalah Dr. I.L. Nommensen yang tiba pada tahun 1862. Dengan pendekatan budaya dan kemanusiaan, Nommensen berhasil membawa transformasi besar. Beliau tidak hanya membawa Injil, tapi juga pendidikan dan kesehatan. Beliau dikenal sebagai Apostel ni Bangso Batak (Rasul Orang Batak) yang membawa kedamaian dan peradaban baru bagi orang Batak.
Kemandirian & Pertumbuhan Global
Pada tahun 1930, HKBP resmi menjadi organisasi mandiri dan tidak lagi di bawah RMG Jerman. Kepemimpinan mulai beralih ke tangan orang Batak asli. Kini, HKBP telah tumbuh menjadi organisasi Kristen Protestan terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Gereja HKBP tidak hanya ada di Sumatera Utara, tapi tersebar di seluruh pelosok Nusantara (Jawa, Kalimantan, Papua) hingga luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan Jerman, membawa semangat "Menjadi Berkat bagi Dunia".